Pages

Jumat, 02 April 2021

Mudik Lebaran

Belum juga ramadhan udah ngobrolin tentang mudik nih. Siapa yang mau mudik lebaran angkat tangan? Saya mau banget mudik tapi situasi dan kondisi belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Kalau di tanya sedih tidak ga bisa mudik? ya jelas sedih lah. Kami di rantau hampir tiga kali puasa tiga kali lebaran belum bisa mudik lagi, udah kayak bang toyyib saja ya.

Tapi apapun itu, kita tetap putut bersyukur karena sampai saat ini masih diberikan nikmat sehat dan kesempatan hidup oleh-Nya, sehingga kita masih bisa mengumpulkan amal sebanyak-banyaknya dan mencari ridhoNya.

Oh iya, sekilas pernah lihat di artikel tentang anturan pemerintah terbaru bahwasanya di saat lebaran nanti ada larangan untuk mudik, sedangkan kalau wisata diperbolehkan, tapi koq agak rancau aturannya ya?.  semoga saja pandemi yang sudah lebih dari setahun melanda negeri tercinta kita ini segera berakhir, aamiin.

Yuk bisa yuk!

Ramadhan tinggal menghitung hari, tidak baik jika kita berlama-lama larut dalam kesedihan, meski jauh dengan keluarga dan saudara-saudara kita masih bisa komunikasi lewat HP, mengekspresikan rindu dengan doa-doa, bertegur sapa lewat social media.

Mari kita sama-sama menyiapkan diri untuk menyambut bulan yang suci, kita siapkan mental, fisik yang prima, agar aktivitas ibadah selama bulan ramadhan nanti bisa optimal. Ini menyemangati diri sendiri lho ya, hehehe.

Saya terus mengupayakan diri agar fisik segera prima kembali pasca melahirkan tiga pekan yang lalu, agar di bulan ramadhan nanti bisa melaksanakan puasa secara maksimal, Allah ridho dan Allah berkahi, aamiin.

Minggu, 14 Maret 2021

Menyambut Hadirnya Anak Sholeh



Setiap proses persalinan selalu ada doa, harapan, kesakitan sebagai penggugur dosa, air mata dan tawa bahagia. Kita hanya perlu menikmati setiap rasa yang kian datang silih berganti, nikmati, nikmati dan nikmati. Karna tak ada rasa yang kekal, semuanya akan berlalu seiring berjalannya waktu.

Jum'at dini hari sekitar pukul 03.30 Wita saya terbangun untuk buang air kecil, saya lanjutkan dengan menggosok gigi kemudian wudhu dan mengerjakan sholat lail. Sehabis sholat perut terasa mulas ringan, saya putuskan untuk melanjutkan tidur hingga waktu sholat subuh tiba.

Sebagaimana biasanya saya bangunkan si kakak untuk segera ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan berwudhu, kita melaksakan sholat subuh bersama. Sehabis sholat kakak mengajak jalan pagi, tapi karna perut terasa mulas dan punggung juga pegel luar biasa akhirnya kita tidak jadi jalan pagi.

Mulas ringan mulai terasa intens, saya putuskan untuk mengukur waktunya menggunakan aplikasi yang saya download di HP. Selang beberapa waktu saya komunikasikan dengan bidan yang bertanggung jawab di tempat tinggal kami.

Bidan merespon dengan baik, menanyakan kondisi dan menyarankan untuk banyak istirahat. Saya sudah tidak mengerjakan aktivitas rumah, hanya sesekali rebahan, jalan kaki di dalam rumah, senam paz maryam dengan memanfaatkan kusen jendela buat pegangan. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Sholat Asar telah berlalu, rasa mulas semakin kuat dan teratur. Saya komunikasikan kembali kepada bidan, beliau menanyakan apakah sudah keluar semacam bercak darah? saya jawab belum ada bu, tapi mulesnya udah semakin kuat, lalu bidan bertanya kembali? "ini persalinan yang ke berapa?", "ke empat bu", jawab saya. "Ya sudah setelah sholat maghrib kita sama-sama datang ke puskesmas, jangan lupa sekalian membawa perlengkapan untuk persalinan" kata bidan via telephon.

Seperangkat perlengkapan untuk persiapan persalinan ini sudah saya siapkan sejak jauh-jauh hari. Karena riwayat persalinan saya sebelumnya selalu lebih cepat dari Hari Perkiraan Lahir, daripada nanti buru-buru lebih baik dipersiapakan sejak awal saja.

Saya masih sholat maghrib, tapi masya Allah sudah sangat kuat kontraksinya. Selepas sholat kedua kakak diantarkan ke rumah Kakak Nafisa buat menginap di sana, lalu suami menghubungi pak dokter Anto, tidak lama pak dokter datang ke rumah dan mengantarkan kami ke puskesmas. Oh iya, di jalan sempat berhenti sekitar 10 menit untuk beli makan (yang pasti dibelikan sama pak dokter, makasih ya dok), tahu kan dalam 10 menit itu bisa terjadi kontraksi berapa kali? 3 sampai 4 kali, emak bangsa pasti tahu rasanya kontraksi itu bagaimana?, dan bapak bangsa kagak bakalan pernah merasakannya.

Dalam benak saya, "ini beneran udah mau lahiran belum ya? biasanya persalinan sebelum-sebelumnya ada tanda bercak darah atau semacamnya sebelum lahiran, paling ini baru pembukaan 2 atau 3" "batinku".

Setelah tiba di puskesmas, kemudian di cek bidan ternyata sudah bukaan 8 atau 9, atas izin Allah tidak sampe 45 menit bayi pun lahir, di susul dengan lahirnya plasenta, namun ada selaput yang belum bisa lepas hingga akhirnya harus di infus, dan setelah 30 menitan lebih baru bisa lepas, masya Allah leganya.

Pasca melahirkan kami menginap semalam di puskesmas untuk di observasi, ditemani si kakak nomer 3 yang mulai rewel sedari adiknya lahir tadi, seperti ada rasa cemburu gitu. 
Pagi sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah setelah menyelesaikan urusan administrasi, dijemput ammah anti tentunya.

Ini kedua kalinya saya melahirkan di puskesmas tersebut, sebelumnya melahirkan di ruang KIA / ruang praktek bidan dan kali ini di ruang obat๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š, karena selalu bersamaan dengan pasien lain saat persalinan. It's Ok tak mengapa.

Betapa Allah selalu membuat hati ini meleleh, atas segala kemudahan-kemudahan yang Dia berikan setiap proses persalinan, tanpa pertolonganNya saya tak punya kekuatan apa-apa. Alhamdulillah wa syukurilah.

Dan tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada temen-temen dan sahabat yang sudah membantu, mensuport dan mendoakan atas kelancaran persalinan ini, saya tidak bisa sebutkan satu per satu, semoga Allah berikan balasan terbaik kepada kalian semua.

Akhir kata, doakan kami agar mampu mengemban amanah menjadi orang tua yang bijak, dan anak-anak kami kelak menjadi anak sholih/ah, tangguh, pecinta Qur'an, Pemegang sunnah, bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, ummat, bangsa dan negara. Aamiin Allahuma aamiin.

Buol, 12 Maret 2021
28 Rajab 1442 H

Jumat, 05 Maret 2021

Menyambut Persalinan


Hari ini tepat 37 weeks usia kehamilan yang ke empat, semoga Allah selalu berikan kesehatan dan kelancaran saat proses persalinan nanti.

Masih saja merasa ada sedikit kekhawatiran dan kecemasan saat penantian persalinan itu, saya fikir ini hal yang wajar saja sich, tiap ibu yang menantikan kelahiran putra-putrinya akan merasakan hal yang sama, asal tidak belebihan saja.

Alhamdulillah hari ini sudah melakukan pemeriksaan terakhir, rapid antibodi dan pemeriksaan darah, mendapatkan hasil sesuai yang kami harapkan.

Ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan saat menjelang persalinan, di antaranya :

1. Kesiapan jiwa (psikologis)

2. Perencanaan tempat bersalin (Puskesmas, Klinik Bidan Praktek, Rumah Sakit, dll)

3. Barang-Barang yang dibawa saat bersalin

- Satu set baju ganti ibu (mulai dari kerudung, kaos kaki, masker dll)

- Dua set baju bayi (Bedong, baju, popok, diapers, sarung tangan dan kaki)

- Dua buah jarik

- Pembalut Nifas

- Buku KIA

- Identitas diri

Dan kini tinggal menunggu proses itu datang. Doakan ya sahabat, semoga proses persalinan nanti berjalan lancar, sehat, selamat serta menjadi anak sholih/ah, anak kuat, pintar dan cerdas.

Kamis, 25 Februari 2021

Devinisi Bahagia

 
Menjadi dambaan bagi setiap orang untuk memiliki kehidupan yang bahagia, pun termasuk diri saya, sudah pasti ingin hidup dengan penuh kebahagiaan sepanjang masa. 

 

Namun, sudah menjadi sebuah keniscayaan, bahwasannya hidup tidak selamanya bahagia, terkadang ada rasa sedih, menagis, sakit, kecewa dan lain sebagainya. Sebagai insan yang beriman tentunya kita bisa memenej tentang segala rasa yang sedang bergelayut di dalam jiwa.

 

Kebahagiaan / kesenangan tidak melulu tentang banyaknya harta yang kita simpan, rumah yang luas bak istana megah yang tinggi menjulang, jabatan yang tinggi, pekerjaan yang mapan, akan tetapi hal-hal kecil jika kita syukuri akan terasa membahagiakan.

 

Kita tidak perlu membandingkan strandar kebahagiaan kita dengan standar kebahagiaan orang lain,  masing-masing kita jelas berbeda. Terkadang hal-hal kecil dan remehpun bisa membuat diri merasa bahagia, misalnya, dibelikan cilok dan gorengan saat suami pulang kerja, anak-anak tumbuh dengan sehat dan ceria, memiliki tetangga yang baik, memiliki teman-teman yang sholih dan saling memberikan nasihat dll.

 

Jika kita merasa belum menemukan kebahagiaan dari orang lain, mari kita berupaya untuk menciptakan kebahagiaan dari diri kita sendiri, dengan seantiasa bersyukur kepada Sang Maha Pemberi Nikmat, atas segala curahan kasih sayang-Nya yang hingga kini tiada batas.







Jumat, 28 Februari 2020

10 Wasiat Imam Hasan Al Banna




Bacalah, renungkan, dan amalkan !

1. Dalam kondisi bagaimana pun, segera dirikanlah shalat ketika mendengar adzan.

2. Baca atau dengarkanlah Al-Qur’an dan ingatlah Allah.

3. Jangan kau habiskan waktumu pada hal-hal yang tidak berguna.

4. Berusahalah untuk berbicara dengan bahasa Arab secara fush-hah (baik), sebab ia termasuk doktrin Islam.

5. Jangan banyak berdebat dalam setiap urusan bagaimana pun bentuknya, sebab pamer kepandaian dan riya’ itu tidak mendatangkan kebaikan sedikitpun.

6. Jangan banyak bergurau, karena umat yang gigih tidak mengenal selain kesungguhan.

7. Jangan mengeraskan suara melebihi yang dibutuhkan oleh pendengar, sebab itu merupakan kecerobohan dan menyakitkan orang lain.

8. Jauhi dari menggunjing orang dan menjelek-jelekkan kelompok atau organisasi, jangan membicarakannya selain kebaikannya saja.

9. Kenalkan dirimu kepada saudara-saudaramu seiman dan seperjuangan walaupun engkau tidak diminta, sebab azas dakwah kita adalah mahabbah (kecintaan) dan saling mengenal.

10. Ketahuilah bahwa kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang terluang, maka bantulah saudaramu untuk menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya, dan jika engkau punya tugas, selesaikanlah segera!