Pages

Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Februari 2022

Tafsir Surat Al Falaq




Surat An-Naas dan Al-Falaq disebut juga dengan surat Al-Mu’awwidzatain yang artinya dua surat yang melindungi. Sebagaimana yang di sampaikan oleh Rasulullah kepada Abdullah bahwa kedua surat tersebut adalah surat-surat yang digunakan untuk memohon perlindungan.

Ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa surat An-Naas dan Al-Falaq diturunkan saat Nabi Muhammad SAW di sihir oleh seorang Yahudi bernama Labid bin Al-Ashom, Nabi di buat seolah-olah pergi mendatangi istri beliau. Kemudian Allah SWT mengirimkan Malaikat Jibril untuk membacakan Surat An-Naas dan Al-Falaq sebagai doa ruhiyah.

Surat An-Naas dan Al-Falaq merupakan satu paket pasangan surat yang serasi, unik dengan keutamaannya, unik dengan kandungan suratnya, serta unik dengan keindahannya.


Ayat 1

Katakanlah (wahai Nabi) aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh”

A'uudzu artinya memohon perlindungan.

Menurut Ibnul Qoyyim a'uudzu memiliki dua makna :

1. As-Sitr : artinya pembatas atau penutup.

Seseorang yang memohon perlindungan kepada Allah SWT ia harus selalu di belakang aturan, tuntunan, dan petunjuk dari Allah SWT, agar Allah memberikan pembatas dengan apa yang seseorang khawatirkan / takutkan. Sekiranya seseorang tersebut melangkahi, dan tidak mengikuti aturan / petunjuk tersebut maka ia termasuk orang yang tidak jujur saat kalimat mengucapkan a'uudzu.

2. Luzumul mujawarroh : ingin selalu dekat erat / menempel.

Seseorang ingin senantiasa dekat dengan Allah SWT, jika merasa jauh ia akan segera mendekat kembali, jika sudah dekat maka akan berusaha memegang dengan kuat (berpegang teguh) wa’tasimu bihablillah.

Makna Rabb adalah pencipta, pemilik, pengatur.

Falaq artinya waktu subuh. Yang ditekankan pada ayat ini adalah memohon perlindungan kepada Allah di waktu kegelapan malam, dan subuh merupakan waktu terjadinya pergantian malam menuju siang.


Ayat 2

Dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan”

Yaitu seluruh makhluk ciptaan Allah yang berpotensi membawa keburukan, termasuk hawa nafsu, kebodohan diri, anak-anak, bisa juga pasangan, keluarga, tetangga, lingkungan kerja dan lain sebagainya.


Ayat 3

dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita”

Kenapa di khususkan waktu malam? Karena kejahatan sering terjadi di malam hari, seperti pencurian, perampokan, sihir, perzinaan. Selain itu sesuatu yang disandingkan dengan kata malam itu memiliki makna negatif, misalnya hiburan malan, wanita malam, kupu-kupu malam, club malam dan lain-lain.


Ayat 4

Dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul”

Buhul adalah sebuah benda atau media sihir, seperti jimat, rajah, benda-benda antik, batu, rambut dan lain sebagainya.

Sebab di khususkan pada perempuan adalah:

1. Zaman tersebut yang menjadi tukang sihir kebanyakan perempuan.

2. Sihir yang paling ampuh yang dibuat oleh seorang perempuan, karena jika seorang perempuan sudah jengkel atau marah, jiwa jahatnya keluar saat berinteraksi dengan jin.

Ayat 5

Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”

Kisah hasad di langit pertama kali terjadi pada kedengkian iblis saat di perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adan AS. Iblis enggan bersujud karena merasa dirinya lebih mulia diciptakan dari api sedangkan Nabi Adam AS diciptakan dari tanah.

Kisah hasad di bumi pertama kali terjadi pada Qobil dan Habil. Qobil mempersembahkan kurbannya berupa hasil panen dengan kualitas yang kurang baik (ala kadarnya), sedangkan

Habil mempersembahkan kurbannya dengan seekor kambing dengan pilihan terbaik. Oleh karenanya persembahan Habil yang diterima oleh Allah SWT. Lalu timbul perasaan hasad pada hati Qobil hingga membunuh saudaranya sendiri yaitu Habil.

Lalu kisah hasad yang kedua, terjadi pada Nabi Yusuf AS, hingga suatu hari saudara-saudara Yusuf dengan sangat keji melemparkannya ke dalam sumur, karena merasa iri kepada Yusuf yang paling di sayang oleh ayah mereka.

Hasad tingkat pertama : benci kalau orang lain mendapatkan nikmat

Hasad tingkat kedua : berusaha menghilangkan nikmat yang diterima orang lain.

Hasad tingkat ketiga : berusaha agar nikmat orang lain pindah kepadanya.

Sejatinya setiap manusia itu memiliki sifat hasad dalam hatinya, akan tetapi orang yang baik akan berusaha menyembunyikan hasadnya tersebut, sedangkan orang jahat akan cenderung menampakkan hasadnya, sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyyah :

“Setiap jasad tidaklah bisa lepas dari yang namanya hasad. Namun orang yang berpenyakit (hati) akan menampakkannya. Sedangkan orang yang mulia akan menyembunyikannya.”

Sebenarnya hasad ini membuat hidup kita menjadi tidak tenang, rasa gelisah berlebihan, menyebabkan banyak fikiran, dan menyiksa diri. Gelisah bila orang lain mendapatkan kenikmatan dan senang ketika orang lain mendapatkan kesusahan, naudzubillah.

Lalu apakah ada iri yang dibolehkan ? Ada, yaitu iri terhadap orang-orang yang berilmu, lalu ilmu tersebut diajarkan kepada banyak orang, yang kedua iri kepada orang yang banyak harta, yang hartanya tersebut digunakan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan serta dibelanjakan di jalan Allah.

Nah, saya jadi menengok pada diri sendiri, mungkin kegelisahan dan ketidaktenangan yang selama ini saya rasakan itu salah satu sebabnya mungkin adanya sifat dengki yang sering muncul dari dalam hati, meski kadang-kadang yang terlintas dalam benak itu hanya keinginan untuk bisa seperti Si A, Si B Si C atau si D, yang justru itu membuat diri saya luput untuk bersyukur, karena terfokus memikirkan itu tadi, dan memang itu kadang-kadang tidak saya sadari, astaghfirullaah.

Sumber :

1. Kajian Ustadz Firanda via youtube

2. Kajian Ustadz Nuzul Dzikri via youtube

Minggu, 09 Januari 2022

Tafsir Surat An Naas




Surat An-Naas dan Al-Falaq disebut juga dengan surat Al-Mu’awwidzatain yang artinya dua surat yang melindungi. Sebagaimana yang di sampaikan oleh Rasulullah kepada Abdullah ibnu Abbas bahwa kedua surat tersebut adalah surat-surat yang digunakan untuk memohon perlindungan.

Ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa surat An-Naas dan Al-Falaq diturunkan saat Nabi Muhammad SAW di sihir oleh seorang Yahudi bernama Labid bin Al-Ashom, Nabi di buat seolah-olah pergi mendatangi istri beliau. Kemudian Allah SWT mengirimkan Malaikat Jibril untuk membacakan Surat An-Naas dan Al-Falaq sebagai doa ruhiyah.

Surat An-Naas dan Al-Falaq merupakan satu paket pasangan surat yang serasi, unik dengan keutamaannya, unik dengan kandungan suratnya, serta unik dengan keindahannya.


Katakanlah (wahai Muhammad) Aku berlindung kepada Tuhan manusia.

أَعُوذُ artinya memohon perlindungan

Menurut Ibnul Qoyyim  أَعُوذُ memilik dua makna :

1. As-Sitr : artinya pembatas atau penutup.

Misalnya : seorang anak yang di ajak orang tuanya untuk periksa ke dokter, saat anak takut kepada dokter maka anak tersebut akan memposisikan diri di belakang orang tuanya. Seseorang yang memohon perlindungan kepada Allah SWT ia harus selalu di belakang aturan, tuntunan, dan petunjuk dari Allah SWT, agar Allah memberikan pembatas dengan apa yang seseorang khawatirkan / takutkan. Sekiranya seseorang tersebut melangkahi,

 dan tidak mengikuti aturan / petunjuk tersebut maka ia termasuk orang yang tidak jujur saat mengucapkan kalimat أَعُوذُ.

2. Luzumul mujawarroh : ingin selalu dekat erat / menempel

Seseorang ingin senantiasa dekat dengan Allah SWT, jika merasa jauh ia akan segera mendekat kembali, jika sudah dekat maka akan berusaha memegang dengan kuat (berpegang teguh) wa’tasimu bihablillah.


Rabb : Pencipta, Pengatur, pemilik

Rabb mewakili seluruh sifat dan asma-asma Allah 

Rabbin naas : kita sebagai manusia ada yang menciptakan (Allah) bukan lahir dengan sendirinya, ada aturan Allah, ada takdir Allah dalam penciptaan manusia. 


Rajanya Manusia

Allah raja yang sesungguhnya. Selain Dia raja hanyalah sebutan atau kiasan saja. Allah lah raja yang memiliki kekuasaan tertinggi dalam kehidupan manusia dan memiliki hak secara mutlak dalam mengatur kehidupan manusia. 


Sesembahan Manusia

Ilaa : yang diibadahi 

Hanya Allah SWT yang pantas dan layak diibadahi, bukan kepada makhluk, bukan kepada hawa nafsu dan bukan kepada dunia. 

Ibadah = puncak ketundukan dan kerendahan di gabungkan dengan puncak rasa cinta.

Ayat 1 – 3 merupakan bentuk tawasul dengan memuji Allah.


Dari kejahatan (bisikan) yang tersembunyi.

Al was-was dan Al-khannaas menurut Abdullah ibnu Abbas bermakna Asy-Syaithan.

Al-khannaas : syaithan yang mengintai / memantau / memata-matai hati manusia.

Syaithan melancarkan aksinya untuk menjerumuskan  manusia di saat hati sedang lengah dalam mengingat Allah. Apabila hati senantiasa terikat dengan Allah maka syaithan tidak akan mampu untuk menembusnya.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Az-Zukhruf ayat 36, yang artinya : 

“Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur'an), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya.”


Yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia.

Was-was : sesuatu yang dilemparkan ke dalam hati manusia dari pemikiran berupa asumsi-asumsi, khayalan-khayalan, fantasi, ketakutan, kekhawatiran yang sejatinya tidak ada hakikatnya/kebenarannya.

Firma Allah surat Al-Baaqarah ayat 268, yang artinya :

 “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”

Lisan dan perbuatan manusia itu semuanya bermuara dari hati, hati ibarat motor pengendali manusia, jika hatinya bersih maka akan tercermin dari perkataan yang baik dan perilaku yang baik pula, pun sebaliknya jika hati manusia kotor maka akan tercermin pula dari lisan dan perilaku yang tidak baik. Sebagaimana sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim :

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika segumpal daging tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh jasad itu. Adapun jika segumpal daging tersebut rusak mereka akan rusak pulalah seluruh jasad. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati.”

Ibnul Qoyyim berkata, godaan syaithan itu bermula dari bisikan-bisikan. Awalnya seseorang tidak memikirkan untuk berbuat kemaksiatan, kemudian syaithan datang dengan membisikkan akan kenikmatan perbuatan maksiat tersebut. Lalu muncullah irodah / kehendak di hati manusia yang telah berhasil di godanya, syaithan akan terus berbisik menghiasi kemaksiatan dengan cara menggambarkan kelezatannya dengan melebih-lebihkan dan membuat lupa manusia akan akibatnya. Setelah itu akan muncul azzam / tekad, ada usaha dalam diri manusia untuk melakukan hal tersebut, maka syaithan pun akan datang membawa seluruh pasukannya untuk membuat seseorang menjadi gelisah jika tidak melakukannya. Sampai akhirnya orang tersebut melakukan kemaksiatan dan terjerumus ke dalamnya. Na’udzubillah.

Kunci agar kita terhindar dari godaan syaithan adalah memohon pertolongan kepada Allah SWT 


Dari jin & manusia.

Yang menggoda manusia untuk berbuat kemaksiatan itu adalah syaithan. Makna syaithan adalah sifat buruk yang ada pada diri jin dan sifat buruk pada diri manusia.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 112, yang artinya :

Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan......”


Implementasi 

Surat An-Naas merupakan surat yang dibaca untuk memohon perlindungan kepada Allah, oleh karena itu surat ini menjadi penting untuk kita baca saat dzikir pagi dan petang, setelah sholat, menjelang tidur dan ketika kita bermimpi buruk.

Syaithan (dari kalangan jin) itu tak tampak oleh mata kita, maka tak ada cara untuk menghindarinya bagi kita kecuali memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Memilih teman yang baik dan sholeh merupakan salah satu upaya kita agar tidak terjerumus dalam lubang kesesatan.


Sumber :

1. Kajian Ustadz Nuzul Dzikri via youtube

2. Kajian Ustadz Firanda Andirja via youtube.

Rabu, 27 Januari 2016

Ukhuwah Islamiyah

Hadits Arbain ke 13
Ukhuwah Islamiyah


عَنْ أَبِيْ حَمْزَة أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَن النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ: (لاَ يُؤمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ) رواه البخاري ومسلم


Abu Hamzah, Anas bin Malik ra. pelayan Rasulullah berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Seorang di antara kalian tidak beriman jika belum bisa mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim)

URGENSI HADITS

Imam Nawawi menyebutkan bahwa Abu Muhammad Abdullah Ibnu Abi Zaid [seorang ulama besar madzab Maliki di Maroko] berkata, “Siklus kebaikan terletak pada empat hadits. Yaitu
1. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah kebaikan atau diam.”
2. “Di antara tanda sempurnanya iman seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak mendatangkan manfaat.”
3. “Jangan marah.”
4. “Tidak beriman seorang di antara kalian, hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.”
Inilah yang barangkali yang mendorong Imam Nawawi memuat keempat hadits tersebut dalam kitab al-Arba’ain “Empat puluh hadits”.
Al-Jurdani, dalam syarahnya terdapat al-Arbain, mengatakan bahwa hadits ini satu dari dasar-dasar Islam.


KANDUNGAN HADITS
1. Persatuan dan kasih sayang.
Islam bertujuan menciptakan masyarakat yang harmonis dan penuh kasih sayang. Setiap individu berusaha mendahulukan maslahat umum dan kedamaian masyarakat, sehingga tercipta keadilan dan kedamaian. Semua itu tidak akan terealisasi kecuali jika setiap individu yang ada dalam masyarakat menghendaki kebaikan dan kebahagiaan bagi orang lain seperti ia menghendakinya untuk dirinya sendiri. Karena itulah, Rasulullah saw. mengkaitkan persatuan dengan iman. Bahkan merupakan bagian yang tak terpisahkan.

2. Iman yang sempurna.
Iman akan terealisasi dengan pembenaran dan pengakuan yang mendalam terhadap rububiyah (bahwa Allah adalah pemelihara, pengatur, penjaga dan sebagainya) dan meyakini rukun iman yang lain, iman kepada para malaikat, kitab-kitab suci, para rasul, hari akhir, qadla dan qadar.
Dalam hadits ini disebutkan bahwa keimanan tidak dianggap kokoh dan mengakar dalam hati seorang muslim, kecuali ia menjadi manusia yang baik. Manusia yang jauh dari egoisme dan rasa dendam, kebencian dan kedengkian. Ia menghendaki kebaikan dan kebaikan terhadap orang lain, sebagaimana ia menginginkan kebaikan dan kebahagiaan itu untuk dirinya sendiri. Lebih rincinya kesempurnaan iman itu akan terealisasi melalui hal-hal berikut:

a. Mencintai kebaikan untuk saudaranya, sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri, dan membenci keburukan untuk saudaranya sebagaimana ia membenci untuk dirinya sendiri. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ketika Mu’adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah saw. perihal iman yang paling afdhal, Rasulullah saw. bersabda: “Agar seseorang mencintai sesuatu [kebaikan] untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri, dan membenci suatu [keburukan] untuk mereka, sebagaimana ia membenci sesuatu [keburukan] untuk dirinya sendiri.” (HR Ahmad)
b. Bersegera memberikan nasehat manakala saudaranya lalai
c. Segera maafkan dan memenuhi hak saudaranya, sebagaimana ia juga ingin segera dipenuhi haknya.

Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin ‘Ash ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang ingin agar dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah ia mati dalam keadaan iman kepada Allah dan hari akhir, dan mendatangi orang yang suka mendatangi.”
3. Nilai lebih seorang muslim.
Di antara bentuk kesempurnaan iman adalah berharap agar kebaikan juga dimiliki orang lain, yang muslim dan yang non muslim. Artinya berharap dan berusaha agar orang-orang kafir itu dapat merasakan nikmatnya iman.
Rasulullah saw. bersabda: “Cintailah sesuatu [kebaikan] untuk orang lain, sebagaimana kamu mencintainya untuk dirimu, niscaya kamu menjadi muslim [yang baik].” (HR Tirmidzi)

4. Berlomba untuk mendapatkan kebaikan.
Berlomba-lomba untuk mendapatkan kebaikan merupakan kesempurnaan iman. Karenanya, seseorang yang ingin memiliki keimanan dan ketakwaan seperti yang dimiliki orang yang lebih shalih, bukanlah suatu aib atau hasad “iri hati”. Bahkan sikap seperti ini merupakan refleksi kesempurnaan iman perbuatan yang disyariatkan Allah swt. dalam firman-Nya: “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (al-Muthaffifiin: 26)

5. Keimanan menciptakan masyarakat yang bersih dan berwibawa.
Hadits ini merupakan dorongan bagi setiap muslim agar senantiasa berusaha membantu orang lain untuk melakukan kebaikan. Karena hal ini merupakan bukti dan tanda kebenaran imannya. Dengan demikian akan tercipta masyarakat yang bersih dan berwibawa. Bagaimanapun ketika seseorang menciptakan suatu kebaikan untuk orang lain, tentu ia akan berlaku baik kepadanya. Dengan demikian akan timbul rasa kasih sayang di antara anggota masyarakat, kebaikan akan tersebar luas, kejahatan dan kedhaliman akan tersisih, dan terciptalah keharmonisan dalam setiap lini kehidupan. Mereka seolah satu hati, kebahagiaan saudaranya adalah kebahagiaanya, kesedihan saudaranya adalah kesedihannya.
Masyarakat seperti inilah yang seharusnya terbentuk dalam komunitas muslim, sebagaimana yang diisyaratkan Rasulullah saw. dalam haditsnya: “Orang-orang mukmin, dalam kasih sayangnya, seumpama satu tubuh. Jika satu anggota tubuhnya sakit, maka anggota tubuh yang lain merasakan demam dan kurang tidur.” (HR Bukhari dan Muslim).
Jika ini yang terjadi, maka Allah akan memberikan kepada mereka kewibawaan, kemuliaan, dan kekuasaan di dunia. Sedangkan di akhirat, ia akan mendapatkan pahala.

6. Masyarakat yang jauh dari keimanan, adalah masyarakat yang egois dan penuh kebencian.
Jika keimanan tidak ada, kasih sayang pun hilang. Sebagai gantinya, kedengkian, penipuan, dan egoisme mendominasi dalam masyarakat. Dalam kondisi ini, manusia menjelma menjadi srigala-srigala yang haus darah, kehidupan kacau dan kedhaliman merajalela. Allah swt. memberikan gambaran: “Mereka itu mati dan tidak hidup. Mereka tidak tahu kapan mereka dibangkitkan.”

7. Hadits ini mendorong kita untuk bersatu dan hidup teratur

8. Hendaklah kita menjauhi hasad, karena hasad dapat mengurangi kesempurnaan iman. Orang yang memiliki sifat hasad, tidak akan mau orang lain melebihinya , atau bahkan berangan-angan agar nikmat yang ada pada orang lain itu sirna.

9. Iman senantiasa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Sumber : Buku Al Wafi