Pages

Minggu, 10 Oktober 2021

Tafsir Surat Al Fatihah Ayat 5


 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”


Secara bahasa ibadah bermakna kerendahan.

Secara istilah ibadah diibaratkan bagai rangkaian cinta, ketundukan dan rasa takut yang sempurna.

Faedah didahulukannya maf’ul (obyek) dan pengulangannya. Pada kata iyyaaka dan setelah itu di ulangi lagi, bertujuan untuk mendapatkan perhatian dan juga sebagai pembatasan. Artinya, “Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu, dan kami tidak bertawakkal kecuali hanya kepada-Mu.” Ini merupakan puncak ketaatan.

Sebagian Salaf mengatakan bahwa surat al-Faatihah merupakan rahasia al-Quran yang terletak pada ayat “iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.” 

Penggalan pertama “hanya kepada-Mu kami beribadah” merupakan pernyataan berlepas diri dari kemusyrikan. Penggalan kedua “hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” merupakan sikap berlepas diri dari upaya dan kekuatan, serta berserah diri kepada Allah SWT.

Dalam surat Huud ayat 123 di jelaskan juga : 

فَٱعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ


Maka ibadahilah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan” (QS. Huud : 123)

Dalam surat Al Mulk ayat 29 :

قُلْ هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ءَامَنَّا بِهِۦ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا


katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Pemurah, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakkal....” (QS. Al Mulk: 29)

Dalam surat al-Faatihan ayat 5 ini, terjadi berubahan bentuk dari orang ketiga menjadi orang kedua/lawan bicara yakni dengan huruf kaf, karena ketika seseorang memuji Allah SWT, maka seolah-olah ia dekat dan hadir di hadapan Allah SWT.

Al-Faatihah merupakan petunjuk agar kita memuji Allah SWT, maka wajib di baca saat shalat.

Dari Ubaidah bin ash-Shamit RA, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Faatihatul Kitaab.”

Dalam Shahiih Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda : “Allah Ta’alaq berfirman: ‘Aku telah membagi shalat (bacaan al-Faatihah) menjadi dua bagian antara diriku dengan hamba-ku. Satu bagian untuk diri-Ku dan satu bagian untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.’ Jika ia mengucapkan Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin, maka Allah SWT berfirman: ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Jika ia mengucapkan ar-Rahmaanir Rahiim, maka Allah SWT berfirman: ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.’ Jika ia mengucapkan Maaliki yaumid diin, maka Allah SWT berfirman: ‘Hamba-Ku telah memuliakan-Ku.’ Dan pernah Abu Hurairah RA mengatakan: “(Allah berfirman:) ‘Hamba-Ku telah berserah diri kepada-Ku.’ Jika iya mengucapkan Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin, maka Allah berfirman: ‘Ini adalah bagian dari-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’ Dan jika ia mengucapkan ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaaliim, maka Allah berfirman: ‘ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.

‘Hanya kepada-Mu kami beribadah’ berkaitan dengan Tauhid Uluhiyyah, yakni hanya Engkau semata yang kami esakan, kami takuti dan kami harapkan wahai Rabb kami, bukan selain-Mu.

‘Hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan’ berkaitan dengan Tauhid Rububiyyah, yakni meminta pertolongan kepada-Nya dalam segala urusan.

‘Hanya kepada-Mu kami beribadah’ didahulukan dari Hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan’ karena ibadah kepada-Nya merupakan tujuan. Dan meminta pertolongan merupakan wasilah (sarana) untuk mendapatkannya. Dan perkara yang di dahulukan adalah perkara yang penting.


UST. FIRANDA


Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin

Merupakan pengakuan seorang hamba kepada Allah SWT.

Iyyaaka sebagai obyek kalimat di letakkan di depan. Asalnya adalah na’buduka yang artinya kami menyembah-Mu. Maka didahulukannya obyek kalimat yang seharusnya ada di belakang menunjukkan adanya pembatasan dan pengkhususan. Artinya ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah SWT. Tidak boleh ibadah ditujukan selain kepada-Nya. Sehingga makna dari ayat ini adalah, ‘Kami hanya menyembah-Mu dan kami tidak menyembah selain-Mu. Kami hanya meminta tolong kepada-Mu dan kami tidak meminta tolong kepada selain-Mu.

Kenapa kata iyyaka di ulang dua kali?

Karena menyembah dan memohon pertolongan dari Allah membutuhkan keikhlasan.

Kenapa na’budu baru nasta’iin?

1. Dengan memohon kepada Allah maka kita akan diberikan pertolongan

2. Ibadah merupakan tujuan, dan pertolongan adalah wasilah. Kita meminta tolong untuk beribadah. 


Kamis, 07 Oktober 2021

Tafsir Surat Al Faatihah Ayat 4


 مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

Malik berasal dari kata Mulk yang artinya kepemilikan, kekuasaan, kerajaan.

Malik artinya Raja, sedangkan Maalik artinya Pemilik.

Jika kata Maalik disematkan pada Allah SWT maka dapat di artikan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Menguasai, Allah adalah Dzat Yang Maha Merajai, dan Allah adalah Dzat Yang Maha Memiliki segala sesuatu.

Ada pendapat mengatakan bahwa kata malik lebih luas dan lebih dalam maknanya daripada kata maalik, diibaratkan sebagai perintah raja harus dilaksanakan oleh pemilik sesuatu apabila pemilik tersebut berada di daerah kekuasaan sang raja, sehingga perbuatan seorang pemilik harus dibawah aturan sang raja.

Malik menunjukkan sifat dari Dzat Allah SWT sedangkan Maalik menunjukkan sifat dari perbuatan Allah SWT.

Al Maalik disandarkan pada kalimat yaumiddin karena pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat mengaku-aku sesuatu dan tidak juga dapat berbicara kecuali dengan izin Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat An-Naba Ayat 38 :

يَوْمَ يَقُومُ ٱلرُّوحُ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ صَفًّا ۖ لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا


Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar.”


Raja yang hakiki ialah Allah

هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ

Dia-lah Allah yang tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Maha Sejahtera....”(QS. Al Hasyr : 23)

Di dalam Al Qur’an surat Al Mu’min ayat 16 dijelaskan :

لِّمَنِ ٱلْمُلْكُ ٱلْيَوْمَ ۖ لِلَّهِ ٱلْوَٰحِدِ ٱلْقَهَّارِ


...kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?" Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan”

وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٌ


“...karena dihadapan mereka ada seorang raja...”

Dalam hadits di jelaskan tentang tidak adanya raja selain Dia, sebagaimana yang di sampaikan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :

“Julukan yang paling hina di sisi Allah adalah seorang yang menjuluki dirinya malikul amlaak (raja diraja), karena tidak ada raja yang sebenarnya kecuali Allah )”

Penyebutan raja bagi selain Allah hanya kiasan (majas) saja, sebagaimana Allah menyebut Thalut sebagai raja.

“...Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut sebagai rajamu...” (QS. Al-Baqarah : 27)


Dari sifat Al Maalik Allah SWT dapat kita pahami beberapa hal :

1. Segala sesuatu yang ada di muka bumi dan di langit beserta isinya adalah milik Allah SWT.

2. Allah Maha merajai, tidak ada seorangpun yang kuasanya melebihi kekuasaan Allah SWT.

3. Allah yang paling adil terhadap hukumNya, hakim yang sebenar-benarnya, Allah yg memberikan keputusan siapa yang masuk ke dalam surga dan siapa yg masuk ke dalam neraka.


Yaumiddin 

Kata ad-diin artinya pembalasan dan perhitungan.

Ibnu ‘Abbas berkata : Hari pembalasan adalah hari perhitungan bagi semua makhluk disebut juga hari Kiamat. Mereka diberi balasan sesuai amalnya. Jika amalnya baik, maka balasannya juga baik, jika amalnya buruk maka balasannya juga buku kecuali yang di ampuni.

Firman Allah QS. An-Nuur : 25

“...Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan sebagaimana mestinya...”

Dalam ayat lain juga di jelaskan 

“...Apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?” (QS. Shaaffaat : 53)

Oleh sebab itu sebagai manuasia yang tidak luput dari salah dan dosa, hendaknya kita untuk bermuhasabah, meninggalkan kemaksiatan dan memperbanyak amal untuk bekal di akhirat kelak.

Umar RA berkata, “hisablah diri kalian sendiri sebelum kalian di hisab, dan timbanglah diri amal kalian sebelum diri (amal) kalian ditimbang. Dan bersiaplah menghadapi hari besar, yakni hari diperlihatkannya amal seseorang, sementara semua amal kalian tidak tersembunyi dari-Nya.


Maaliki yaumiddin dapat di artikan Allah SWT yang memiliki hari tersebut dan Allah berhak mengatur segalanya.

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabb-mu) tidak ada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (QS. Al Haaqqah : 18)

Tidak ada seorangpun yang memiliki kekuasaan pada hari itu selain Allah SWT, tidak ada seorang pun yang mampu menyembunyikan perbuatan buruk semasa hidup di dunia, semua amal akan di timbang dengan seadil-adilnya oleh Allah SWT. Setiap orang akan menerima haknya di akhirat atas segala kerugian yang menimpanya di dunia, begitu juga setiap orang akan menerima hukumannya di akhirat atas perbuatannya di dunia yang merugikan sesama.



Sumber :

1. Buku Tafsir Ibnu Katsir

2. Kajian Ustadz Muhammad Hanafi via youtube

3. Kajian Ustadz Firanda Andirja via youtube

4. Tafsirweb.com 


Tafsir Surat Al Faatihah Ayat 3 Ar Rahmaan Ar Rahiim (bagian 2)


الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”

Ar Rahmaan dan Ar Rahiim berasal dari kata yang sama, yaitu rahiima artinya Merahmati.

Kata Ar Rahmaan merupakan wazan fa’lan yang menunjukkan hiperbola. Jadi Ar Rahmaan artinya Dzat yang melimpahkan rahmat kasih sayangNya yang begitu luas kepada seluruh makhlukNya baik untuk orang yang beriman maupun untuk orang kafir.

Kata Ar Rahiim merupakan wazan fa’il yang menunjukkan perbuatan sampai ke sasarannya, Ar Rahiim menunjukkan fi’il madzi / kata kerja. Jadi Ar Rahiim artinya kasih sayang Allah yang 
sampai kepada makhlukNya sesuai yang Allah kehendaki. Kasih Sayang Allah di akhirat hanya untuk orang-orang yang beriman, sedangkan orang kafir di akhirat tidak mendapatkannya.
• Fa’lan menunjukkan makna luas sedangkan fa’il menunjukkan perbuatan yang sampai.
• Jika kedua kata di gabung antara Ar Rahmaan dan Ar Rahiim maka memiliki makna Dzat yang merahmati yang rahmatNya sangat luas dan Dzat yang merahmati yang rahmatNya sampai kepada sasaranya (makhlukNya).
• Rahmat Allah ada 2, yaitu rahmat yang sampai kepada makhluk dan rahmat yang tidak sampai kepada makhluk.
• Rahmat Dunia yang sampai kepada makhluk misalnya, Allah beri kemudahan untuk menerima hidayah, Allah tanamkan lezatnya iman di dalam hati, kemudahan rejeki, rasa aman dalam hidup dll.
• Rahmat Dunia yang tidak sampai kepada makhluk misalnya, susah untuk menerima hidayah, selalu dalam kemaksiatan, tidak ada iman di dadanya dll.
• Rahmat Akhirat hanya sampai kepada orang-orang mukmin yakni surga, sedangkan orang kafir tidak dapat menerima rahmat di akhirat.
Kajian Ustadz Ammi Nur Baits via Youtube

Selasa, 28 September 2021

Tafsir Surat Al Faatihah Ayat 3 Ar Rahmaan Ar Rahiim (bagian 1)


الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”


Ar Rahmaan dari wazan fa’lan sighah mubalaghah (bermakna lebih) yang menunjukkan besarnya dan luasnya Rahmat Allah SWT. RahmatNya meliputi segala sesuatu, sebagaimana firman Allah  Surat Al A’raf ayat 156 :

وَرَحْمَتِى وَسِعَتْ كُلَّ شَىْءٍ 

“...dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu...”

Ar Rahiim berkaitan dengan Allah menyampaikan rahmat tersebut kepada makhluk-makhlukNya, sesuai dengan kadar yang Allah kehendaki.

Jika di tinjau dari Maha besarnya dan luasnya rahmat Allah SWT maka nama Rahmaan hanya khusus untuk Allah saja, karena maknanya mengandung rahmat yang luar biasa, tidak ada yang memiliki sifat seperti Dia. 

Oleh karenanya kata Rahmaan tidak boleh di gunakan untuk panggilan nama selain Allah, misalnya jika ada yang memiliki nama Abdul Rahmaan maka jangan di panggil Rahmaan, karena panggilan Rahmaan hanya untuk Allah semata.

Belajar dari kisah Musailamah, ia dengan bangganya menamakan dirinya dengan Rahmaanul Yamamah (Yamamah merupakan nama suatu tempat), maka Allah memakaikan kepadanya pakaian kebohongan (al-Kadzdzab) sehingga ia di kenal dengan nama Musailamah al-Khadzdzab atau Musailamah si pendusta. Maka jadilah ia sebagai lambang kebohongan bagi penduduk desanya.

Sedangkan kata Rahiim boleh di gunakan sebagai panggilan nama orang.

Kesimpulan : 

Ar Rahmaan berkaitan dengan sifat yang ada pada diri Allah SWT.

Ar Rahiim berkaitan dengan sampainya sifat rahmat Allah SWT kepada makhlukNya



Sumber : 

Kajian Ustadz Firanda Andirja via Youtube



Senin, 20 September 2021

Tafsir Surat Al Fatihah Ayat 1 (Bismillahir Rahmaanir Rahiim)



Basmalah merupakan Kalimat Keberkahan

Kalimat basmalah bentuk dari kata kerja basmala yang artinya ‘Pembacaan bismillahir rahmaanir rahiim. 

Kalimat basmalah di dalam al-Quran ditemukan sebanyak 115 kali:

Basmalah pada awal surat al-Faatihah.

Basmalah pada surat an-Naml ayat 30.

Basmalah pada setiap awal surat (113)

Basmalah di dalam al-Quran ada 2 model: 

1) Basmalah dalam Surat an-Naml ayat 30: semua ulama sepakat bahwa basmalah tersebut termasuk ayat al-Quran.

2) Basmalah yang terdapat di awal surat (khususnya al-Faatihah).

Khilafiyah tentang basmalah

1) Jumhur ulama: Basmalah tidak termasuk ayat dalam surat al-Faatihan

2) Ibnu Mubarrok: Basmalah adalah ayat pertama semua surat.

3) Imam Syafi’i: Basmalah adalah ayat pertama surat al-Faatihah.

Kalimat basmalah bermakna aku menyebut nama Allah, dzat Yang Maha Agung, dzat Yang Maha Esa, dzat Yang Maha Kuasa, dzat yang harus di sembah, tidak ada Tuhan selain Dia, dan tak ada sekutu bagi-Nya.

Kata ar-Rahmaan bermakna bahwa Allah Yang Maha Esa, Maha Kuasa yang dapat memberikan rahmat, karunia dan nikmat kepada semua makhluk-Nya.

Kata ar-Rahiim bermakna bahwa Allah Yang Maha Esa, Maha Kuasa yang menguasai hari kemudian, hari akhirat, yang dapat memberikan rahmat, karunia kepada hamba-hambaNya, yang menaati perintah-Nya saat di dunia, dan mendapat rahmat-Nya kelak di surga-Nya, diampuni dosanya dan dilipatgandakan kebaikannya.

Anjuran Membaca Basmalah

Secara umum: semua urusan penting hendaklah membaca membaca basmalah.

“Seluruh perkara penting yang tidak dibukakan dengan basmalah maka terputus. (Hasan Lighoirihi)

Amalan Khusus

Menyembelih hewan

Hendak wudhu

Saat tersungkur/tergelincir

Berjima’

Hendak makan

Saat meruqiyah diri

Saat hendak membuka pakaian.



Sumber : 

Kajian Ustadz Firanda Andirja

Tafsiralquran.id