Pages

Sabtu, 12 Maret 2022

Menjaga Lisan

 Menahan pembicaraan itu bukanlah sesuatu yang mudah, namun bukan pula sesuatu yang mustahil untuk dilakulan. Semua bisa diupayakan, ucapan bisa kita tahan dengan cara berfikir terlebih dahulu sebelum perkataan tersebut benar-benar keluar dari lisan kita. Seberapa pentingkah untuk di ucap? atau hanya sekedar basa basi yang bahkan bisa jadi melukai perasaan lawan bicara kita? 


Jangan sampai kita menjadi orang yang menancapkan paku pada sebuah kayu, meski paku telah di cabut bekasnya tak akan pernah bilang. Sama halnya ketika kita melukai perasaan orang lain, meski sudah meminta maaf dan dimaafkan kesalahan kita, tidak ada yang bisa menjamin bahwa kesalahan kita sudah benar-benar terhapus oleh ingatan. Bisa jadi suatu waktu luka itu akan kembali menganga bila terbayang akan sebuah goresan luka. Sebelum itu terjadi  maka mari kita sama-sama menahan pembicaraan yang tidak diperlukan.

Minggu, 06 Maret 2022

Tafsir Surat Al Ikhlas

 



Asbabun Nuzul QS. Al Ikhlas

Surat Al ikhlas diturunkan di Kota Mekkah setelah surat An Naas dan Al Falaq. Surat ini merupakan surat favorit bagi kebanyakan orang, karena ayatnya pendek sehingga mudah dihafal, sering juga dibaca saat shalat, apalagi kalau waktu shalatnya terbatas auto membaca Qul huwallahu ahad ini. Hehehe


Kenapa Surat Al Ikhlas ini diturunkan?

Ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa pada saat itu orang-orang Quraisy meminta kepada Nabi Muhammad SAW untuk menggambarkan tentang bagaimana sifat-sifat Allah SWT. Maka kemudian Allah SWT turunkan surat Al Ikhlas ini.

Kata Al Ikhlas ini bisa dimaknai dengan kholusa yang artinya murni menjelaskan sifat-sifat Allah SWT.


Keutamaan membaca surat Al Ikhlas

1. Menyamai 1/3 Al Quran

Membaca surat Al Ikhlas satu kali sama halnya membaca 1/3 Al Quran. Kenapa dikatakan 1/3 Al Quran : karena surat Al Ikhlas menjelaskan tentang 3 hal, yaitu :

a) Sifat-sifat Allah SWT.

b) Hukum-hukum Allah SWT

c) Kisah-kisah.

Dari Abi Sa’id Al-Khudri, bahwasanya ada orang mendengar seseorang membaca “Qul huwallahu ahad”, dan diulang-ulang. Pada keesokan harinya, ia mendatangi Rasulullah SAW dan melaporkannya, seakan ia menganggap remeh. Maka Rasulullah bersabda: ”Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, ia sebanding dengan sepertiga Al-Qur`an”. (Shahih Bukhari, no 5013)

2. Wasilah masuk surga

Dari Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy RA ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca ‘QUL HUWALLAHU AHAD’ (surah Al-Ikhlas) sampai ia merampungkannya sebanyak sepuluh kali, maka akan dibangunkan baginya istana di surga.” (HR. Ahmad)

3. Surat Al Ikhlas sering di baca oleh Nabi

Waktu dianjurkan membaca surat Al Ikhlas :

- Pada shalat qobliyah subuh

- Pada shalat ba’diyah maghrib

- Saat shalat witir di rakaat ke 3

- Setiap habis shalat (3 qul)

- Sebelum tidur

- Dzikir pagi-petang


Ayat 1

Katakanlah (wahai Muhammad) “Dialah Allah Yang Maha Esa”

Ketika orang-orang Yahudi mengatakan, “Kami menyembah Uzair anak Allah.” Orang Nasrani mengatakan, “Kami menyembah Isa anak Allah.” Orang-orang musyrik mengatakan, “Kami menyembah berhala.” Maka Allah menegaskan bahwa Dia Maha Esa.

Dialah Allah Tuhan Yang Satu, Yang tiada tandingan-Nya, tidak ada yang serupa dengan-Nya, tiada nama dan sifat sempurna kecuali Dia, tidak ada yang penyayang seperti Dia, tiada yang lebih pedih siksa-Nya kecuali dari-Nya, Dialah Allah sang pemilik, pencipta, pengatur, yang memberikan kehidupan dan yang mematikan.

Kata ahad (أحد) diambil dari akar kata wahdah (وحدة) yang artinya kesatuan. Juga kata waahid (واحد) yang berarti satu. Kata ahad dalam ayat ini berfungsi sebagai sifat Allah yang artinya Allah memiliki sifat tersendiri yang tidak dimiliki oleh selain-Nya

Menurut Sayyid Qutb, “Qul huwallahu ahad” merupakan lafal yang lebih halus dan lebih lembut daripada kata “ahad.” Sebab ia menyandarkan kepada makna “wahid” bahwa tidak ada sesuatu pun selain Dia dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya.


Ayat 2

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.”

Ibnu Abbas mengatakan bahwa seluruh makhluk bergantung kepada Allah dalam kebutuhan dan sarana mereka. Dialah Tuhan yang maha sempurna dalam perilaku-Nya. Maha Mulia yang sempurna dalam kemuliaan-Nya. Maha Besar yang sempurna dalam kebesaran-Nya, pemimpin yang sempurna dalam kepemimpinannya, Maha bijak yang sempurna kebijaksanaan-Nya. Allah tidak membutuhkan apa pun termasuk ibadah dari manusia karena sejatinya ibadah akan kembali kepada manusia.

Makna Ash shamad :

Tafsir Al Misbah, (الصمد) berasal dari kata kerja shamada (صمد) yang artinya menuju. Ash shamad merupakan kata jadian yang artinya “yang dituju.” 

Sayyid Qutb, (الصمد) secara bahasa adalah tuan yang dituju, yang suatu perkara tidak akan terlaksana kecuali dengan izinnya. Allah SWT adalah Tuan yang tidak ada tuan sebenarnya selain Dia. Dialah satu-satunya yang dituju untuk memenuhi segala hajat makhluk.


Ayat 3

Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.” 

Sayyid Qutb menjelaskan, hakikat Allah itu tetap, abadi, azali. Sifatnya adalah sempurna dan mutlak dalam semua keadaan. Kelahiran adalah suatu kemunculan dan pengembangan, wujud tambahan setelah kekurangan atau ketiadaan. Hal demikian mustahil bagi Allah. Kelahiran juga memerlukan perkawinan. Lagi-lagi, ini mustahil bagi Allah.

Kalau Allah punya anak berarti Dia butuh pasangan (tidak Esa), kalau Tuhan dilahirkan berarti ada kematian / ketiadaan, padahal Allah itu kekal.


Ayat 4

Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” 

Kata kufuwan (كفوا) berasal dari kata kufu’ (كفؤ) yang artinya sama. Tidak ada seorang pun yang setara apalagi sama dengan Allah SWT.

Dialah yang memiliki segala sesuatu dan yang menciptakannya, maka mana mungkin Dia memiliki tandingan dari kalangan makhluk-Nya yang bisa mendekati atau menyamai-Nya. 

Menurut Sayyid Qutb, makna ayat ini adalah, tidak ada yang sebanding dan setara dengan Allah. Baik dalam hakikat wujudnya maupun dalam sifat Dzat-Nya.


Kesimpulan

Surat ini berisi rukun-rukun aqidah dan syariat Islam paling penting. Yakni mentauhidkan Allah SWT Menyifati Allah dengan sifat sempurna dan menafikan segala sekutu bagi-Nya.

Bahwa Allah itu Esa, Allah itu tidak butuh pada siap pun dan apa pun, Allah itu tidak beranak/tidak diperanakkan, dan tak ada yang setara dengan Dia.

Surat ini merupakan bantahan telak kepada orang-orang kafir, orang-orang nashara yang menganggap bahwa Isa Al Masih itu dilahirkan. Mereka semua telah menyekutukan Allah. Maka Allah menjelaskan tauhid yang benar, yang harus diimani oleh umat Islam dalam surat ini.

Orang-orang nashara dikafirkan bukan karena membunuh, berkelakuan buruk  maupun berzina, akan tetapi mereka disebut kafir karena mengatakan Allah punya anak.

Sesungguhnya telah kafirlah orang yang mengatakan, ‘bahwasannya Allah salah seorang dari yang tiga,’ padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa .” (QS. Al Maidah:73)

Minggu, 20 Februari 2022

Tafsir Surat Al Falaq




Surat An-Naas dan Al-Falaq disebut juga dengan surat Al-Mu’awwidzatain yang artinya dua surat yang melindungi. Sebagaimana yang di sampaikan oleh Rasulullah kepada Abdullah bahwa kedua surat tersebut adalah surat-surat yang digunakan untuk memohon perlindungan.

Ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa surat An-Naas dan Al-Falaq diturunkan saat Nabi Muhammad SAW di sihir oleh seorang Yahudi bernama Labid bin Al-Ashom, Nabi di buat seolah-olah pergi mendatangi istri beliau. Kemudian Allah SWT mengirimkan Malaikat Jibril untuk membacakan Surat An-Naas dan Al-Falaq sebagai doa ruhiyah.

Surat An-Naas dan Al-Falaq merupakan satu paket pasangan surat yang serasi, unik dengan keutamaannya, unik dengan kandungan suratnya, serta unik dengan keindahannya.


Ayat 1

Katakanlah (wahai Nabi) aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh”

A'uudzu artinya memohon perlindungan.

Menurut Ibnul Qoyyim a'uudzu memiliki dua makna :

1. As-Sitr : artinya pembatas atau penutup.

Seseorang yang memohon perlindungan kepada Allah SWT ia harus selalu di belakang aturan, tuntunan, dan petunjuk dari Allah SWT, agar Allah memberikan pembatas dengan apa yang seseorang khawatirkan / takutkan. Sekiranya seseorang tersebut melangkahi, dan tidak mengikuti aturan / petunjuk tersebut maka ia termasuk orang yang tidak jujur saat kalimat mengucapkan a'uudzu.

2. Luzumul mujawarroh : ingin selalu dekat erat / menempel.

Seseorang ingin senantiasa dekat dengan Allah SWT, jika merasa jauh ia akan segera mendekat kembali, jika sudah dekat maka akan berusaha memegang dengan kuat (berpegang teguh) wa’tasimu bihablillah.

Makna Rabb adalah pencipta, pemilik, pengatur.

Falaq artinya waktu subuh. Yang ditekankan pada ayat ini adalah memohon perlindungan kepada Allah di waktu kegelapan malam, dan subuh merupakan waktu terjadinya pergantian malam menuju siang.


Ayat 2

Dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan”

Yaitu seluruh makhluk ciptaan Allah yang berpotensi membawa keburukan, termasuk hawa nafsu, kebodohan diri, anak-anak, bisa juga pasangan, keluarga, tetangga, lingkungan kerja dan lain sebagainya.


Ayat 3

dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita”

Kenapa di khususkan waktu malam? Karena kejahatan sering terjadi di malam hari, seperti pencurian, perampokan, sihir, perzinaan. Selain itu sesuatu yang disandingkan dengan kata malam itu memiliki makna negatif, misalnya hiburan malan, wanita malam, kupu-kupu malam, club malam dan lain-lain.


Ayat 4

Dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul”

Buhul adalah sebuah benda atau media sihir, seperti jimat, rajah, benda-benda antik, batu, rambut dan lain sebagainya.

Sebab di khususkan pada perempuan adalah:

1. Zaman tersebut yang menjadi tukang sihir kebanyakan perempuan.

2. Sihir yang paling ampuh yang dibuat oleh seorang perempuan, karena jika seorang perempuan sudah jengkel atau marah, jiwa jahatnya keluar saat berinteraksi dengan jin.

Ayat 5

Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”

Kisah hasad di langit pertama kali terjadi pada kedengkian iblis saat di perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adan AS. Iblis enggan bersujud karena merasa dirinya lebih mulia diciptakan dari api sedangkan Nabi Adam AS diciptakan dari tanah.

Kisah hasad di bumi pertama kali terjadi pada Qobil dan Habil. Qobil mempersembahkan kurbannya berupa hasil panen dengan kualitas yang kurang baik (ala kadarnya), sedangkan

Habil mempersembahkan kurbannya dengan seekor kambing dengan pilihan terbaik. Oleh karenanya persembahan Habil yang diterima oleh Allah SWT. Lalu timbul perasaan hasad pada hati Qobil hingga membunuh saudaranya sendiri yaitu Habil.

Lalu kisah hasad yang kedua, terjadi pada Nabi Yusuf AS, hingga suatu hari saudara-saudara Yusuf dengan sangat keji melemparkannya ke dalam sumur, karena merasa iri kepada Yusuf yang paling di sayang oleh ayah mereka.

Hasad tingkat pertama : benci kalau orang lain mendapatkan nikmat

Hasad tingkat kedua : berusaha menghilangkan nikmat yang diterima orang lain.

Hasad tingkat ketiga : berusaha agar nikmat orang lain pindah kepadanya.

Sejatinya setiap manusia itu memiliki sifat hasad dalam hatinya, akan tetapi orang yang baik akan berusaha menyembunyikan hasadnya tersebut, sedangkan orang jahat akan cenderung menampakkan hasadnya, sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyyah :

“Setiap jasad tidaklah bisa lepas dari yang namanya hasad. Namun orang yang berpenyakit (hati) akan menampakkannya. Sedangkan orang yang mulia akan menyembunyikannya.”

Sebenarnya hasad ini membuat hidup kita menjadi tidak tenang, rasa gelisah berlebihan, menyebabkan banyak fikiran, dan menyiksa diri. Gelisah bila orang lain mendapatkan kenikmatan dan senang ketika orang lain mendapatkan kesusahan, naudzubillah.

Lalu apakah ada iri yang dibolehkan ? Ada, yaitu iri terhadap orang-orang yang berilmu, lalu ilmu tersebut diajarkan kepada banyak orang, yang kedua iri kepada orang yang banyak harta, yang hartanya tersebut digunakan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan serta dibelanjakan di jalan Allah.

Nah, saya jadi menengok pada diri sendiri, mungkin kegelisahan dan ketidaktenangan yang selama ini saya rasakan itu salah satu sebabnya mungkin adanya sifat dengki yang sering muncul dari dalam hati, meski kadang-kadang yang terlintas dalam benak itu hanya keinginan untuk bisa seperti Si A, Si B Si C atau si D, yang justru itu membuat diri saya luput untuk bersyukur, karena terfokus memikirkan itu tadi, dan memang itu kadang-kadang tidak saya sadari, astaghfirullaah.

Sumber :

1. Kajian Ustadz Firanda via youtube

2. Kajian Ustadz Nuzul Dzikri via youtube

Minggu, 09 Januari 2022

Tafsir Surat An Naas




Surat An-Naas dan Al-Falaq disebut juga dengan surat Al-Mu’awwidzatain yang artinya dua surat yang melindungi. Sebagaimana yang di sampaikan oleh Rasulullah kepada Abdullah ibnu Abbas bahwa kedua surat tersebut adalah surat-surat yang digunakan untuk memohon perlindungan.

Ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa surat An-Naas dan Al-Falaq diturunkan saat Nabi Muhammad SAW di sihir oleh seorang Yahudi bernama Labid bin Al-Ashom, Nabi di buat seolah-olah pergi mendatangi istri beliau. Kemudian Allah SWT mengirimkan Malaikat Jibril untuk membacakan Surat An-Naas dan Al-Falaq sebagai doa ruhiyah.

Surat An-Naas dan Al-Falaq merupakan satu paket pasangan surat yang serasi, unik dengan keutamaannya, unik dengan kandungan suratnya, serta unik dengan keindahannya.


Katakanlah (wahai Muhammad) Aku berlindung kepada Tuhan manusia.

أَعُوذُ artinya memohon perlindungan

Menurut Ibnul Qoyyim  أَعُوذُ memilik dua makna :

1. As-Sitr : artinya pembatas atau penutup.

Misalnya : seorang anak yang di ajak orang tuanya untuk periksa ke dokter, saat anak takut kepada dokter maka anak tersebut akan memposisikan diri di belakang orang tuanya. Seseorang yang memohon perlindungan kepada Allah SWT ia harus selalu di belakang aturan, tuntunan, dan petunjuk dari Allah SWT, agar Allah memberikan pembatas dengan apa yang seseorang khawatirkan / takutkan. Sekiranya seseorang tersebut melangkahi,

 dan tidak mengikuti aturan / petunjuk tersebut maka ia termasuk orang yang tidak jujur saat mengucapkan kalimat أَعُوذُ.

2. Luzumul mujawarroh : ingin selalu dekat erat / menempel

Seseorang ingin senantiasa dekat dengan Allah SWT, jika merasa jauh ia akan segera mendekat kembali, jika sudah dekat maka akan berusaha memegang dengan kuat (berpegang teguh) wa’tasimu bihablillah.


Rabb : Pencipta, Pengatur, pemilik

Rabb mewakili seluruh sifat dan asma-asma Allah 

Rabbin naas : kita sebagai manusia ada yang menciptakan (Allah) bukan lahir dengan sendirinya, ada aturan Allah, ada takdir Allah dalam penciptaan manusia. 


Rajanya Manusia

Allah raja yang sesungguhnya. Selain Dia raja hanyalah sebutan atau kiasan saja. Allah lah raja yang memiliki kekuasaan tertinggi dalam kehidupan manusia dan memiliki hak secara mutlak dalam mengatur kehidupan manusia. 


Sesembahan Manusia

Ilaa : yang diibadahi 

Hanya Allah SWT yang pantas dan layak diibadahi, bukan kepada makhluk, bukan kepada hawa nafsu dan bukan kepada dunia. 

Ibadah = puncak ketundukan dan kerendahan di gabungkan dengan puncak rasa cinta.

Ayat 1 – 3 merupakan bentuk tawasul dengan memuji Allah.


Dari kejahatan (bisikan) yang tersembunyi.

Al was-was dan Al-khannaas menurut Abdullah ibnu Abbas bermakna Asy-Syaithan.

Al-khannaas : syaithan yang mengintai / memantau / memata-matai hati manusia.

Syaithan melancarkan aksinya untuk menjerumuskan  manusia di saat hati sedang lengah dalam mengingat Allah. Apabila hati senantiasa terikat dengan Allah maka syaithan tidak akan mampu untuk menembusnya.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Az-Zukhruf ayat 36, yang artinya : 

“Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur'an), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya.”


Yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia.

Was-was : sesuatu yang dilemparkan ke dalam hati manusia dari pemikiran berupa asumsi-asumsi, khayalan-khayalan, fantasi, ketakutan, kekhawatiran yang sejatinya tidak ada hakikatnya/kebenarannya.

Firma Allah surat Al-Baaqarah ayat 268, yang artinya :

 “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”

Lisan dan perbuatan manusia itu semuanya bermuara dari hati, hati ibarat motor pengendali manusia, jika hatinya bersih maka akan tercermin dari perkataan yang baik dan perilaku yang baik pula, pun sebaliknya jika hati manusia kotor maka akan tercermin pula dari lisan dan perilaku yang tidak baik. Sebagaimana sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim :

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika segumpal daging tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh jasad itu. Adapun jika segumpal daging tersebut rusak mereka akan rusak pulalah seluruh jasad. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati.”

Ibnul Qoyyim berkata, godaan syaithan itu bermula dari bisikan-bisikan. Awalnya seseorang tidak memikirkan untuk berbuat kemaksiatan, kemudian syaithan datang dengan membisikkan akan kenikmatan perbuatan maksiat tersebut. Lalu muncullah irodah / kehendak di hati manusia yang telah berhasil di godanya, syaithan akan terus berbisik menghiasi kemaksiatan dengan cara menggambarkan kelezatannya dengan melebih-lebihkan dan membuat lupa manusia akan akibatnya. Setelah itu akan muncul azzam / tekad, ada usaha dalam diri manusia untuk melakukan hal tersebut, maka syaithan pun akan datang membawa seluruh pasukannya untuk membuat seseorang menjadi gelisah jika tidak melakukannya. Sampai akhirnya orang tersebut melakukan kemaksiatan dan terjerumus ke dalamnya. Na’udzubillah.

Kunci agar kita terhindar dari godaan syaithan adalah memohon pertolongan kepada Allah SWT 


Dari jin & manusia.

Yang menggoda manusia untuk berbuat kemaksiatan itu adalah syaithan. Makna syaithan adalah sifat buruk yang ada pada diri jin dan sifat buruk pada diri manusia.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 112, yang artinya :

Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan......”


Implementasi 

Surat An-Naas merupakan surat yang dibaca untuk memohon perlindungan kepada Allah, oleh karena itu surat ini menjadi penting untuk kita baca saat dzikir pagi dan petang, setelah sholat, menjelang tidur dan ketika kita bermimpi buruk.

Syaithan (dari kalangan jin) itu tak tampak oleh mata kita, maka tak ada cara untuk menghindarinya bagi kita kecuali memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Memilih teman yang baik dan sholeh merupakan salah satu upaya kita agar tidak terjerumus dalam lubang kesesatan.


Sumber :

1. Kajian Ustadz Nuzul Dzikri via youtube

2. Kajian Ustadz Firanda Andirja via youtube.

Minggu, 31 Oktober 2021

Tafsir Surat Al Fatihah Ayat 6

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

 Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus


Ihdinaa bisa di artikan Ya Allah berilah kami petunjuk,  berilah kami hidayah.

Ash-Shiraathal Mustaqiim: yang hidayah itu lurus, bening, tidak berbelok

Makna Hidayah

Hidayah berarti bimbingan dan taufiq.

Menurut para ulama makna hidayah mencakup 3 hal : 

1. Hidayah menunjuk kepada islam

Bimbingan bagi seseorang untuk memeluk agama islam. Belum muslim kemudian menjadi muslim.

2. Hidayah menunjuk pada kekuatan iman

Sudah muslim kemudian Allah tambahkan keimanannya.

3. Hidayah bentuknya amal sholih

Petunjuk untuk mengerjakan amal sholih. Saat kita mendapatkan hidayah dari Alah maka tubuh kita akan tergerak untuk beramal sholih.

Kenapa seorang mukmin meminta hidayah padahal sifat itu sudah ada padanya. Apakah termasuk tahshilul bashiil (usaha memperoleh sesuatu yang sudah ada) atau bukan?

Bukan. Sekiranya mereka tidak perlu memohon hidayah siang dan malam, niscaya Allah tidak akan membimbingnya untuk melakukan hal itu. Sebab seorang hamba senantiasa membutuhkan Allah kapan saja dan bagaimanapun keadaannya, agar diberikan keteguhan, kemantapan, penambahan, dan hidayah, karena ia tidak kuasa mendatangkan manfaat ataupun mudharat kepada dirinya sendiri kecuali atas izin Allah SWT. Maksud memohon hidayah ini adalah memohon ketetapan, kelangsungan dan kesinambungan amal yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut.

Oleh karena itu Allah SWT selalu membimbingnya untuk senantiasa memohon kepada-Nya setiap saat agar Dia memberikan pertolongan, keteguhan dan taufiq.

Ash-Shiraathal Mustaqiim

Abu Ja’far bin Jarir : Seluruh ahli tafsir sepakat arti ash-shiraathal mustaqiim adalah jalan yang terang dan lurus, tidak ada bengkokan padanya.

Di sifatkan mustaqiim karena kelurusannya, kebalikannya adalah mu’awwij karena kebengkokannya.


Makna Ihdinash shiraathal mustaqiim  (di sampaikan oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri)

Mengajarkan kepada kita untuk meminta doa agar Allah SWT memberikan petunjuk ke jalan yang lurus.

Menjelaskan kepada kita bahwa setelah kita beribadah dan memohon pertolongan Allah (ayat sebelumnya), kita diperintahkan untuk kembali kepada Allah. Tidak ada yang bisa menjamin kita tidak tergelincir ke jalan yang salah kecuali pertolongan dari Allah SWT.

Jalan yang lurus merupakan jalan kebahagiaan. 


Makna  shiraathal mustaqiim (Ust. Firanda Andirja)

1) Jika kami belum berada di jalan yang lurus, maka tunjukkanlah jalan yang lurus tersebut.

2) Jika kami sudah berada di jalan yang lurus, maka kokohkanlah dan tegarkanlah (istiqomah)

3) Jika kami sudah istiqomah di jalan yang lurus, maka bukakanlah pintu-pintu kebaikan yang lainnya.


Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari an-Nawwas bin Sam’an RA, dari Rasulullah SAW bersanda : 

“Allah telah membuat perumpamaan shiraathal mustaqiim (jalan yang lurus), di dua sisi  shiraath (jalan) terdapat dua pagar. Di pagar tersebut terdapat pintu-pintu yang terbuka. Dan di pintu-pintu itu terdapat tirai-tirai yang terurai. Di depan shiraath terdapat orang yang berseru: ‘Wahai manusia, masuklah kalian semua ke dalam shiraath ini dan janganlah berbelok.’ Dan di atas shiraath terdapat penyeru yang akan berseru, apabila ada seorang manusia yang ingin membuka pintu-pintu tersebut, penyeru di atas shiraath berkata: ‘Celaka (hati-hatilah) kamu, janganlah engkau membukanya. Jika engkau membukanya, niscaya engkau akan terperosok masuk ke dalamnya.’ Shiraat itu adalah islam. Pagar-pagar itu adalan batasan-batasan Allah. Pintu-pintu yang terbuka itu adalah perkara-perkara yang diharamkan Allah. Penyeru di depan pintu shiraath adalah Kitabullah. Dan penyeru di atas shiraath adalah pemberi peringatan dari Allah  yang ada di dalam hati setiap muslim.

Hasan Al Basri mengatakan: barangsiapa yang membaca ihdinash shiraathal mustaqiim lalu ia mengamalkannya, maka seolah-olah ia mengamalkan isi seluruh kitab-kitab Allah SWT.

Dengan demikian makna ihdinash shiraathal mustaqiim adalah “Semoga Engkau terus berkenan menunjuki kami di atas jalan yang lurus dan jangan belokkan kami ke jalan yang lain.”



Sumber:

1. Buku Tafsir Ibnu Katsir.

2. Kajian Ustadz Adi Hidayat via youtube

3. Kajian Ustadz Firanda Andirja via youtube.

4. Kajian Ustadz Muh. Nuzul Dzikri via youtube.